Jumat, 16 September 2011

Naskah Drama

Naskah ini aku buat untuk pementasan PORSENI di sekolah, karena waktunya mepet dan orang-orang ingin mementaskannya belum pernah sekalipun latihan jadi drama ini tidak sempat di pentaskan. Jadi, dari pada naskahnya tinggal begitu saja dalam komputer lebih baik aku masukkan saja ke blog ku siapa tau bisa lebih bermanfaat buat teman-teman.. Yah,, yang terakhir maaf kalau kurang rapi.. T_T


ELF

Ada seorang gadis buta yang hidup seorang diri, orang tuanya telah meninggal sejak 15 tahun yang lalu akibat kecelakaan mobil. Kini gadis itu Tinggal bersama dengan tantenya. Karena tantenya adalah wanita karir, sehingga ia tinggal sendirian dalam rumah yang cukup besar. Walau pun buta, gadis itu sudah terbiasa hi/
dup mandiri dan mengurus kebutuhannya sendiri.
Suatu hari, karena merasa bosan karena kesepian dan tidak memiliki teman gadis itu memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar rumahnya. Tapi, baru melangkah beberapa langkah dari pagar rumahnya..
FARIZ         : AWASSSS!!
ELF             : (terkena bola dan jatuh)
FARIZ         : (berlari mendekatin Elf) “Kau tak apa-apa?” (membantu Elf berdiri)
Elf               : “Ya. Tak apa-apa” (menggosok tangannya yang luka) “Terima kasih” (berdiri membelakangi Fariz )
FARIZ         : “Kenapa anak ini membelakangiku”  (berjalan ke depan Elf, mengamatinnya) “apa jangan-jangan” (melambaikan tangannya di depan muka Elf) “Hey.. Kau.. kau buta ya??”.
ELF             : “Ia, kenapa?” (sinis)
FARIZ         : “pantas saja kau tak menghindar tadi, ” (mengambil bolanya) “mengapa kau berjalan sendirian? Itu kan bahaya sekali, apalagi kau tak bisa melihat”
ELF              : “Hmmm, aku bosan di rumah teruss”                               
FARIZ         : “kau tak punya teman ya?”
ELF             : “Begitulah”
FARIZ         : “kasihan sekali anak ini”. “Emmm, kalau begitu ayo ikut aku”
ELF             : “ke mana?”
FARIZ         : “kita ke lapangan sana. Di sana ada banyak anak seumuruan kita, aku akan memperkenalkanmu kepada teman ku. Kau akan mempunyai banyak teman di sana.”
ELF             : “Ya.. baiklah” (agak ragu)
          Mereka pun berjalan menuju lapangan..
FARIZ         : “Oh ya.. kau suka sepak bola?”
ELF             : “aku tak pernah menonton sepak bola. Kau ingat aku buta” (dengan nada sinis)
FARIZ         : “Oh ya.. Maaf”
ELF             : “tak apa-apa.. Btw, kau belum menyebutkan nama mu.. Aku Elf”
FARIZ         : “Elf ya nama yang lucu.. Aku Fariz”


               Di Lapangan..
FIKRI         : “Hoyy.. Fariz.. Di sini”
FARIZ         : “Hy.. Maaf terlambat”
FIKRI         : “Dasar..” (Melihat Elf) “Fariz siapa gadis itu?” (berbisik”)
FARIZ         : “Dia orang yang membuatku terlambat tahu.. ”
ELF             : “Ehmmm..”
FARIZ         : “Oh ya.. Fikri ini Elf. Elf ini Fikri”
FIKRI          : “Hy.. Aku Fikri” (mengangkat tangan)
FARIZ         : (Mengangkat tangan Elf)
ELF             : “Elf . Senang bertemu dengan mu”.
FARIZ         : “Dia buta tau” (Berbisik)
FIKR           : “What??”
FARIZ         : “Ceritanya panjang. Aku..”
TIAN           : “Fariz, Fikr .. hy..”
FIKRI & FARIZ: “Hy Tian”
FIKRI           : “Tian, mana Wiwik?”
TIAN            : (Bengong) “Fikri, Fariz Siapa dia??”
FARIZ         : “Oh, ya Tian. Ini Elf, Elf ini teman ku yang lain Tian”
TIAN          : (Ceria) “Hy Elf. Anak baru ya di sini.. kok aku nggk pernah melihatmu?”
ELF                       : “Nggk udah lama, Cuma aku baru ke sini”
TIAN                    : “Oh.. kenapa??”
ELF                       : “Soalnya aku…”
FARIZ         : “Dia nggk bisa melihat. Eh, ayo main Fikri. Elf, kamu tinggal di sini ya, ngobrol aja ma Tian dia baik kok. Nantin aku antar kamu pulang deh..”
ELF             : “Ia, makasih ya Fariz ”
FARIZ         : (Smile) “Ya”
TIAN          : “Elf, kita duduk di sana yuk!!” (menarik Elf)
ELF             : “Ya”
WIWIK       : “Hy, Tian siapa dia?” (Melirik Elf)
TIAN          : “Wi, Dia Elf teman baru kita”
WIWIK       : “Oh..”                                

         Sejak saat itu, Elf mempunyai banyak teman yang sangat baik padanya, dia bukan lagi gadis buta yang kesepian, tapi dia adalah gadis buta yang mempunyai banyak teman yang selalu menghibur dan tak pernah mempersoalkan kekurangan Elf.

* * *
Di antara semua teman-teman Elf yang lain, Fariz yang selalu ada untuk Elf saat ia senang apa lagi duka. Ia mengajarkan segala sesuatu yang ingin di ketahui oleh Elf, mulai dari segala sesuatu yang ada di sekitar mereka sampai denagn hal-hal yang jarang di temui Elf. Hampir setiap hari Fariz datang ke rumah Elf untuk menemuinya. Mungkin karena Fariz-lah yang pertama kali bertemu dengan Elf dan menjadi teman pertamanya dan seiring berjalannya waktu hubungan mereka berdua semakin akrab.
ELF             : “Dari ceritamu ku yakin pekarangan rumah bibi ku ini sangat bagus ya?”
FARIZ         : “Begitulah”
ELF             : “…” (mendesah)
FARIZ         : “Kenapa?”
ELF             : “Aku ingin sekali melihat.. aku ingin melihat rumah ini, melihat bunga-bunga yang selalu kau ceritakan padaku, melihat bibi ku, teman-teman ku, dan melihat mu..”
FARIZ         : “Hmm, kau bisa melihat melalui ku Elf”
ELF             : “Apa maksud mu?”
FARIZ         : “Kau bisa membayangkan apa yang ku ceritakan, dengan begitu kau bisa tahu semuanya dan kau bisa melihat semuanya dalam kepalamu”
ELF             : “Yah.. Kau benar, tapi aku benar-benar ingin melihat..”
FARIZ         : “Kalau begitu, kita bisa mencari mata untukmu”
ELF             : “Maksudmu?”
FARIZ         : “Kita cari orang yang ingin mendonorkan matanya untukmu”
ELF             : “Tapi akan kah ada orang yang mau?”
FARIZ         : “Emm, kita lihat saja nanti. Pasti ada Elf. Kau akan melihat. Aku akan mencari orang yang mau mendonorkan matanya. Aku janji kau akan melihat”
ELF             : “Ya. Terima kasih”
FARIZ         : “Nggg, ngomong-ngomong kalau nanti kau sudah bisa melihat apa yang ingin kau lihat pertama kali?”
ELF             : “Emm, entahlah.. Mungkin bibi ku, lalu kau dan teman-teman”
FARIZ         : “Oh..”.. “Elf?”
ELF             : “Ya..”
FARIZ         : “Low udah melihat nanti mau nggk kamu.. emm.. ehh.. nggg..” (gugup)
ELF             : “Mau apa?” (penasaran)
FARIZ         : “Nggk, nanti aja deh.. Hehe..”
ELF             : “Fuh.. Dasar”

* * *
Kemudian..
FARIZ         : “Emmm, Elf. Minggu nanti datang ya ke lapangan, hari minggu itu klub kompleks kita bertanding dengan klub kompleks sebelah”
ELF             : “Untuk apa?, toh aku juga nggk bisa lihat kalian tendang bola” (pesimis)
TIAN          : “Jangan gitu donk El, walau pun nggk bisa lihat mereka , kamu bisa datang nyemangatin mereka kok”
FIKRI                   : “Benar kata Tian El. Kita kan jadi semangat low kamu ada. Hehe.”
ELF             : “Em, kalau gitu ia deh..”
WIWIK       : “Elf, minggu nanti biar aku yang jemput ya..”
ELF             : “Ya, makasih”

* * *
Elf yang telah memutuskan untuk pergi ke lapangan untuk menyemangati teman-temannya di jemput oleh Wiwik, dan mereka pun berjalan ke lapangan yang memang tidak jauh dari rumah Elf.
ELF             : “Wik, kau baik sekali ingin menjemputku”
WIWIK       : “Yeah, kebetulan hari ini aku mau jalan”
ELF             : “Kalau begitu terima kasih ya”
WIWIK       : “Ya, sama-sama”
         Di gerbang lapangan mereka telah di tunggu oleh Tian, Fikri, dan Fariz.
TIAN          : Elf, kita duduk di sini saja yuk. (menarik tangan Elf ke tempat duduk di pinggir lapangan di ikuti dengan Wiwik, Fikri, dan Fariz)
FIKRI         : “Ok, ini waktunya. Doakan kami menang ya…..”
         Setelah 2 babak pertandingan akhirnya pertandingan di menangkan oleh tim Fariz..
TIAN          : “Yeaahhhh, tim kompleks kita menang El.”
ELF             : “Ah, syukurlah”
WIWIK      : “Itu mereka datang” (sambil menunjuk Fariz cs)
TIAN          : “Selamat ya kalian menang”
FIKRI         : “Yah, begitulah, kami..”
WIANK      : “Hey, Kalian!!”
ELF             : “Siapa itu? Aku tak pernah mendengar suaranya sebelum ini”
FARIZ         : “Itu WIANK, kapten klub sepak bola kompleks sebelah”
WIWIK       : “Ada perlu apa dia ke mari”
WIANK      : “Selamat ya atas kemenangannya, lain kali kita tanding lagi”. “Oh ya.. aku WIANK” (mengangkat tangan untuk jabat tangan kepada Wiwik yang memandang aneh ke arah WIANK)
WIWIK       : “Oh, aku Wiwik” (menjabat tangan WIANK)
TIAN          : “Tian” (menjabat tangan WIANK)
ELF             : “aku Elf”
WIANK      : “Elf? Wah, namamu cantik. Secantik orangnya. Hehe.” “mengapa kau tak menjabat tangan ku?”
ELF             : “Aku.. aku tak bisa melihat”
WIANK      : (Syok ) “Maaf, aku tak tahu”
ELF             : “Tak apa-apa”
FARIZ         : “Baiklah, kita pulang yuk”
FIKRI         : “Ayo, aku sudah lelah sekali. Bye Rez, kita pulang dulu”
WIWIK       : “Bye”
All               : (jalan)
WIANK       : “oh ya.. Bye”
         Tapi, baru beberapa langkah terdengar suara WIANK lagi.
WIANK       : “Hey, tunggu!!” (lari mendekati Elf dkk). “Elf, di mana rumah mu?”
ELF             : “Emm, 2 blok dari sini. Rumah warna hijau”
WIANK       : “Oh, kok kamu bisa tahu warna rumahmu?”
ELF             : “Hehe..  Fariz yang bilang”
WIANK       : “Oh, low gitu kapan-kapan aku ke sana ya”
ELF             : “Ya”
FARIZ         : “Sudah. Ayo kita pulang” (Menarik Elf)
WIANK      : “Bye Elf”
ELF             : “Bye”
(Setelah agak menjauh dari WIANK)
ELF             : “Fariz, WIANK itu baik ya..” (suara pelan)
FARIZ         : “Emm, entahlah. Ku juga baru kenal dia 2 minggu lalu”
ELF             : “Oh.. gitu ya.”
FARIZ         : “Yup, memang kenapa?”
ELF             : “Nggk”.. “Sebenarnya sih, sejak dengar suaranya aku suka.. Tapi, apa dia juga akan suka ma ku dengan keadaan ku yang seperti ini? ” (berkata dalam hati)
FARIZ         : (Melihat Elf)

* * *
Sejak pertandingan itu, Elf semakin jarang keluar dari rumahnya, walau pun di bujuk oleh Fariz untuk ikut ke lapangan untuk bertemu dengan yang lainnya ia memilih untuk tinggal di rumahnya. Sampai suatu ketika saat Fariz datang ke rumanhya ia melihat Elf bersama dengan WIANK di depan rumahnya. Elf tampak gembira sekali.
FARIZ         : “Ah, ternyata karena dia kau tak pernah mau datang Elf” (Berkata dalam hati dan mimik yang sedih) “Kau kelihatan gembira sekali saat bersamanya. Aku gembira kalau kau juga gembira

* * *
Dua hari setelah itu.. Kegembiraan muncul
WIWIK       : “ELFFF..”
ELF             : “Ada apa?”
TIAN          : (Memeluk Elf) “Elf, sebentar lagi kau akan bisa melihat Elf. hahaha”
ELF             : “APA?”
WIWIK       : “Ia, Elf. Ada orang yang mau mendonorkan kornea matanya buat kamu”
ELF             : “A.. Are you really guys?”
TIAN          : “Betul El, kita nggk bercanda”
ELF             : “Siapa orang itu?”
WIWIK       : “Itulah, Elf. Kami juga tak tahu. Identitas orang itu di sembunyikan”
TIAN          : “Nggk usah di pikirkan Elf, yang penting kan kanu udah dapat mata. Bentar lagi kamu bisa melihat”
WIWIK       : “Yah.. Tian benar El”
Fariz dan Fikri datang wajah Fikri sangat sedih dan Fariz tetap seperti biasa.
TIAN          : “Fariz, Fikri ada berita bagus!!”
FARIZ         : “Oh ya? Apa?”
TIAN          : “Ada orang yang mendonorkan matanya untuk Elf. Bentar lagi Elf bisa melihat”
FARIZ         : “Wah, yang benar??”
TIAN          : “Benar. Ini suratnya” (menyodorkan surat)
FARIZ         : “Wah, selamat ya Elf” (Pats Elf’s head)
WIWIK       : “Fik, kok murung gitu dengar kabar gembira gini?”
FIKRI          : “Ah, nggk. Slamat ya Elf”
TIAN          : (Menatap aneh Fikri)
FARIZ         : “Kucing kesayangan Fikri baru aja mati gara-gara ke tabrak motor tadi pagi, jadi dia kayak gini deh”
FIKRI          : (Menatap sedih Fariz)
WIWIK       : “Oh, gitu..”
ELF             : “Yuk masuk. Kita rayakan kabar gembira ini”
All               : “Yuk..”                
WIANK       : (Datang)
* * *

Seminggu kemudian, operasi pencangkokkan mata Elf telah selesai dan waktunya perban mata Elf di buka. Semua teman-teman Elf datang untuk melihat moment yang sangat menggembirakan ini.
DOKTER      : “Ya.. buka mata pelan pelan Elf”
ELF             : (Buka mata)
DOKTER    : “Kedip-kedip kan pelan”
ELF             : (turuti kata dokter)
DOKTER    : “Apa yang Elf lihat?” (melambaikan tangan depan mata Elf)
ELF             : “Sesuatu yang bergerak-gerak dokter”
DOKTER    : “Yah, sebentar lagi matanya akan fokus dan dia akan melihat. Selamat Elf”
TIAN          : (Duduk di depan Elf) “Elf, bisa lihat aku nggk?”
ELF             : “Ya”. (Nangis) “Ya aku bisa. Ini Tian kan?” (pegang wajah Tian, mengalihkan pandangan)
WIWIK       : “Hai, Elf”
ELF             : “Wiwik” (berjalan menuju Wiwik) “Ini pasti tante kan” (memeluk tantenya)
TANTE        : “Ia Elf”
FIKRI          : “Elf”
ELF             : “Dan kau Fikri”
WIANK       : (Muncul dari belakang) “Hai Elf”
ELF             : (Berbalik) “WIANK”
WIANK      : “Yup, betul”
ELF             : (Celingak-celinguk) “Mana Fariz? Aku ingin melihatnya”
FIKRI          : “Emm, itu.. Dia lagi keluar kota. Ada yang harus dia kerjakan di sana”
ELF             : (Murung)
FIKRI          : “Tapi sebelum kamu operasi dia datang kok”, “Ia kan Tian, Wik?”
TIAN & WIWIK: “Ia”
ELF             : “Kapan dia kembali?”
FIKRI          : “Entahlah. Dia tidak bilang apa-apa”
TANTE        : “Sudah, nggk usah sedih. Nanti juga Fariz kembali. Ayo jangan murung. Kan teman-temanmu jadi ikut sedi juga.”
WIANK       : “Ia, betul Elf, Ayo kita rayakan saja”
ELF             : “Baiklah”

Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan bagi Elf. Akhirnya, setelah sekian lama terkurung dalam kegelapan ia dapat melihat. Tapi ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Ke mana Fariz di saat Elf sedang bahagia seperti ini?

* * *

Seminggu telah berlalu sejak Elf dapat melihat fariz tak kunjung muncul menemuinya dan hanya menghubunginya lewat telpon, beberapa kali Elf meminta agar Fariz menemuinya tetapi Fariz selalu nenghindar dengan mengatakan bahwa ia sangat sibuk.
ELF              : (Melamun)
WIANK       : “Hey” (Menepuk bahu Elf)
ELF              : “Oh.. Kamu”
WIANK       : “Ya, knapa melamun?”
ELF              : “Nggg, lagi pikirin sesuatu”
WIANK       : “Fariz ya?”
ELF              : “Emm” (Mengangguk)
WIANK       : “Elf..”
ELF              : “Emm?”
WIANK       : “kw tau nggk, dari pertama ketemu aku tuh,, emm.. suka kamu”
ELF              : (Kaget) “…”
WIANK       : “Elf, Will you marry me?”
ELF              : “Emm, boleh aku pikir dulu?”
WIANK       : “Yup”
ELF              : (jalan agak ke depan sambil mondar mandir)“duh.. gimana ini, apa aku harus bilang ia atau tidak?  Emmm.. (Berbalik ke WIANK) “Ya. I will”. “walau sebenarnya aku menunggu dia mengatakan itu pada ku.. bukan kau
Tak lama setelah itu, mereka pun mengumumkan rencana pertunangan mereka kepada teman-teman yang lain.
FIKRI         : “WHATT??, Elf dan WIANK akan………”
TIAN          : “Ia, memang kenapa??”
FIKRI         : “Ini.. Ini tak boleh..” (Berlari mencari Elf)
WIWIK      : “Kenapa dia?”
TIAN          : “Entah..”
          Fikri mendatang rumah Elf dan dengan segera menemui Elf..
FIKRI         : “Elf..”
ELF            : “Fikri, ada apa?”
FIKRI         : “Ada sesuatu yang ingin ku beritahukan padamu”
ELF             : “Apa?”
FIKRI         : “Ini tentang Fariz” (mengajak Elf duduk) “Sebenarnya ia melarang ku memberitakukan ini pada mu, tapi karena aku tak tahan melihat sahabatku seperti ini dan kau berhak mengetahui sebenarnya”
ELF             : “Cepat ceritakan”
FIKRI          : “Sebenarnya, orang yang mendonorkan matanya untuk mu adalah Fariz Elf”
ELF             : “Ti, tidak.. Mengapa kau tak mencegahnya? Mengapa kau baru  memberi tahuku sebenarnya sekarang? Mengapa tak dari dulu, sebelum ini terjadi?” (Histeris)
FIKRI          : “ Aku tak bisa. Dia ingin membuat mu bahagia. Dia mencintaimu Elf, sejak awal, sejak kalian bertemu. Tapi, karena ia melihat mu sangat senang dekat dengan WIANK ia mengira kau menyukainya. Lalu, ia ingin melihatmu bahagia dengan WIANK sehingga ia memutuskan untuk memberimu matanya”
ELF             : “Di mana Fariz sekarang?” (menangis)
FIKRI          : “Itu, Dia.. nggg..”
ELF             : “Beritahu aku di mana dia Fikri”
FIKRI          : “Kau betul-betul ingin menemui Fariz Elf?”
ELF             : “Ya, antarkan aku”
Elf pun bergegas ketempat Fariz berada di antar oleh Fikri..
FIKRI          : “Mudah-mudahan waktunya cukup” (Cemas)
ELF             : “Apa maksudmu?”
FIKRI          : “Resiko memdonorkan mata kita kepada sesorang sangat besar Elf. Jika mata menolak kornea yang di berikan taruhannya adalah nyawa”
ELF             : “Jangan-jangan..” (melihat Fikri ngeri)
FIKRI          : (Mengangguk) “Ya, sejak mendonorkan kornea matanya, kesehatan Fariz terus menurun dan kemarin kondisinya makin parah”
Sesampai di tempat Fariz berada mereka melihat rumah itu terasa hawa kesedihan yang menyelimuti.
Memasuki rumah,
FIKRI                   : “Elf, kita terlambat”
ELF             : (syok melihat Fariz) “Tidak, kenapa ia begitu bodoh.. Fariz, ayo bangun bodoh” (terisak) “mengapa kau lakukan ini?? Kenapa??” (mengguncang badan Fariz)
FIKRI          : “Hentikan Elf, dia suda pergi. Ikhlaskan dia” (Merogoh sakunya) “Ini, Fariz menulis ini untukmu”
ELF             : (Membuka kertasnya)

Dear Elf,
Kalau kau membaca surat ini aku pasti sudah tak ada..
Dan Fikri pasti telah membertahu mu semunya..
Jadi, aku Cuma ingin berkata padamu gunakan baik-baik matamu, berbahagialah dengan WIANK dan hentikan tangismu, kau jelek kalau menangis tahu..
Emm, maaf membuat semua ini begitu rumit, aku hanya ingin membuatmu bahagia,
Senang sekali rasanya dapat bertemu denganmu, mungkin di kehidupan berikutnya kita bisa bertemu..

I love you Elf..

     Fariz


THE END

Tragedi di pagi hari

16 September 2011


Izin dari sekolah selama 2 hari untuk menghadiri pernikahan kakak sepupuku sepertinya membawa banyak problem bagiku setelahnya. Aku ketinggalan pelajaran, nilai yang tak masuk, pe-er yang tak ku kerjakan dan guru yang tak terima permintaan izin dari siapa pun kecuali langsung dari orang tua, serta orang tuaku yang “lupa” meminta izin padanya..

Hummm..
Seperti pagi ini, muncul lagi problem lain..
Rasanya aku tak dapat merasakan nikmatnya sarapanku saat melihat kelinciku mengeluarkan hajatnya yang hitam dan encer. Mungkin itu akibat Shizu, nama kelinciku memakan tahu isi semalam, padahal tak lazim kan bagi kelinci memakan makanan seperti itu. Rasa penyesalan terasa berkumpul di ulu hatiku. Bagaimana tidak, jika kali ini Shizu mati berarti aku telah membunuh 6 kelinci.. T_T

Ugh, angka 6 itu menurutku bukan angka yang sedikit..
Tragedi pagi ini membuatku tak bisa tenang dalam belajar di sekolah, belum lagi hari ini ada hafalan yang menuntut untuk dihafal dan 2 ulangan sedang menungguku, dan aku melupakan hari ulang tahun sahabatku, Tham-chan..

Yap, sempurna sudah penderiataanku hari ini..

Yah, jika nanti Tham-chan membaca catatanku hari ini, aku, Kimidori Ai, sungguh minta maaf ke Tham-chan karena melupakan hari ulang tahun Tham-chan.. Otanjobi Omedeto, moga panjang umur, dan sehat selalu..^^


Yang Sedih,


Kimidori Ai

Senin, 22 Agustus 2011

12 Monumen Parepare

 Monumen 40.000 Jiwa
a.    Letak
Jalan Bau Massepe, depan mesjid Agung.
b.    Keterangan
Monumen ini dibangun karena adanya nilai sejarah yang sangat banyak yang terdapat ditempat tersebut. Hal ini dikarenakan karena adanya peristiwa korban 40.000 jiwa yang terjadi di seluruh daerah yang ada di Sulawesi Selatan sehingga untuk mengenang para pahlawan dan banyak orang yang lainnya yang telah gugur dalam peristiwa itu maka dibangunlah Monumen 40.000 tersebut. Adapun pahlawan yang gugur pada peristiwa itu berjumlah 24 orang.
c.    Foto



Monumen Jejak Telapak Tangan Prof. Dr. Ir. Ing. Baharuddin Yusuf Habibie
a.    Letak
Jalan Habibie Center
b.    Keterangan
Monumen Jejak Telapak Tangan Prof. Dr. Ing. Baharuddin Yusuf Habibie ini di buat adalah untuk memberikan penghormatan kepada Prof. Dr. Ing. Baharuddin Yusuf Habibie yang dimana beliau adalah putra pertama Parepare yang telah bisa menjadi Presiden Indonesia. Adapun bagian-bagian dari monumen tersebut adalah:
a.    Jejak tangan Prof. Dr. Ing. Baharuddin Yusuf Habibie
b.    Puisi untuk Prof. Dr. Ing. Baharuddin Yusuf Habibie
c.    Foto


Monumen Adipura
a.    Letak
Pintu sebelah selatan Senggol
b.    Keterangan
Monumen ini dibuat untuk menandakan bahwa kota Parepare telah mendapatkan Piala adipura yang menandakan bahwa kota Parepare adalah kota yang bersih. Monumen ini di bangun di pinggir laut dan berdekatan dengan perpustakaan kota serta terletak di dalam pasar senggol.
c.    Foto


Monumen H. A. Bau Massepe
a.    Letak
Jalan ujung H. A. Bau Massepe (Depan toko 1001)
b.    Keterangan
Monumen ini didirikan untuk menghargai jasa H. A. Bau Massepe yang telah membangkitkan semangat rakyat Parepare untuk melawan para penjajah yang bermaksud menguasai Parepare. Beliau juga di kenal sebagai sosok yang pemberani dan tidak gentar melawan penjajah.
c.    Foto



Monumen KB
a.    Letak
Jalan Lasinrang (Depan pintu pasar Lakessi sebelah utara)
b.    Keterangan
Monumen ini di bangun karena adanya program KB yang di jalankan oleh pemerintah kota Parepare, dan monumen seperti ini tidak hanya ada di depan pintu pasar Lakessi saja tetapi ada pada berbagai tempat di kota Parepare. Adapun kondisi monumen ini terlihat jorok karena adanya jelanga yang menutupi hampir semua permukaan monumen.
c.    Foto
  

Monumen KB
a.    Letak
Jalan Veteran (Depan kantor PLN)
b.    Keterangan
Monumen KB lainnya terdapat di Jalan Veteran tepatnya depan kantor PLN. Berbeda dengan monumen KB yang berada di Jalan Lasinrang monumen KB yang berada di jalan Veteran ini lebih terawat dan terlihat indah karena dilengkapi dengan taman-taman yang berada di sekeliling monumen. Selain sebagai perwujudan suksesnya program KB di kota Parepare monument yang satu ini juga di gunakan sebagai pembatas wilayah.
c.    Foto



Monumen Perahu Sampan
a.    Letak
Jalan Mattirotasi (Depan pasar seni)
b.    Keterangan
Monumen ini adalah monument yang unik yang dikarenakan karena monument ini mempunyai bentuk menyerupai kapal layar. Monumen ini di bangun karena kota Parepare adalah kota yang memiliki pelabuhan sebagai penghubung pulau Sulawesi denga pulau Kalimantan dan bahkan pulau Jawa, selain itu juga melambangkan bahwa kota Parepare adalah kota yang sebagian penduduknya berprofesi sebagai nelayan.
c.    Foto


Monumen Pemuda
a.    Letak
Jalan H. Agus Salim
b.    Keterangan
Monumen patung pemuda ini didirikan untuk memberri motovasi kepada generasi muda yang ada di kota Parepare agar melanjutkan perjuangan pejaung-pejuang angkatan 45 untuk mempertahankan kemerdekaan dan memajukan kota Parepare dan bangsa Indonesia menjadi salah satu bangsa yang dapat bersaing dengan bangsa-bangsa besar yan ada di dunia dengan cara belajar dengan keras dan giat bekerja.
c.    Foto



Monumen Baju Adat
a.    Letak
Jalan Bau Massepe
b.    Keterangan
Monumen ini di bangun sebagai ucapan selamat datang kepada orang-orang yang berkunjung ke Parepare. Selain itu monumen ini didirikan untuk memperkenalkan pakan adat kita sebagai masyarakat Sulawesai Selatan khususnya Parepare yaitu “baju bodo” kepada para tamu yang berkunjung.
Adapun keadaan monument ini dapat di katakan sangat terawat, apa lagi dengan adanya bunga-bunga dan pohon-pohon yang berada di sekitar monumen baju adat ini semakin menarik minat kita untuk mengunjunginya.
c.    Foto


Monumen Adipura
a.    Letak
Sektor ujung - Lasiming
b.    Keterangan
Monumen Adipura yang terletak di dekat sektor ujung Parepare ini sedikit berbeda jika di bandingkan dengan monumen-monumen adipura yang ada di kota Parepare, hal ini terjadi karena bentuk dari monumen ini sedikit pendek dari monumen-monumen adipura pada umumnya dan sedikit lebih lebar. Adapun keadaan di sekitar monumen dapat dikatakan terawat karena keadaan monumen tersebut selain karena disekitarnya di Tanami bunga-bunga indah juga kebersihannya terjaga.
c.    Foto

Monumen Adipura
a.    Letak
Jalan Bambu Runcing
b.    Keterangan
Monumen ini terletak di jalan Bambu Runcing tepatnya berada di jalan Jendral Sudirman. Letak monumen ini agak jauh dari pusat kota, tetapi monument ini cukup strategis karena terletak di jalan yang dilaewati oleh mobil antar kota. Selain itu, monume ini juga terletak pada jalan masuk menuju rumah sakit Tipe C.
      Adapun keadaan monument ini cukup terawat dibandingkan dengan monumen KB yang ada di jalan Lasinrang, walau demikian cat-cat di sekeliling monument tersebut terkelupas di mana-mana.
c.    Foto

Monumen Korban 40.000 Jiwa
a.    Letak
Jalan M. Kurdi - Lemoe
b.    Keterangan
Monumen ini terletak di jalan M. Kurdi, Lemoe. Letak yang berada di pinggiran kota ini menyebabkan monumen ini tidak terlalu di kenal oleh masyarakat. Meskipun begitu, moumen ini tetap mempunyai makna sejarah yang besar. Karena monumen ini didirikan akibat peristiwa 40.000 jiwa pada tanggal 23 Januari 1949. Pada peristiwa 40.000 itu menewaskan 25 orang.
c.    Foto

***

      Tulisan tentang 12 Monumen Parepare ini sebenarnya adalah salah satu tugas saya sewaktu SMP. Tugas ini juga dilengkapi dengan peta lokasi tiap-tiap monumen, akan tetapi karena suatu hal saya tidak bisa menambahkan peta-peta tersebut kedalam tulisan ini. Oleh karena itu, jika ada yang berminat melihat secara lengkap tulisan ini dapat mengirim pesan ke e-mail saya ai_niji12@yahoo.co.id. Oh ya, sebagai catatan tambahan monumen di Parepare bukan hanya ada 12 buah seperti yang tertera di atas tetapi masih banyak yang lainnya. Tetapi, karena yang guru saya minta cuma 12 buah jadi saya dan teman-teman saya juga cuma mencari tahu tentang 12 buah.. hehehe.. Tetapi walau 'cuma' 12 buah tapi usaha yang dibutuhkan untuk mencari informasi tentang monumen-monumen ini besar loh, kami harus berjalan lumayan jauh untuk bisa sampai ke monumen-monumen tersebut yang kebanyakan berada ditempat yang terpencil bahkan angkutan kota tidak sampai ke sana.. T_T
      Yeaaaahh, curhaaaat lagi.. 


      Oh ya, foto di atas itu teman-teman saya sewaktu berburu foto-foto monumen untuk tugas ini. Yang pake baju pink paling kiri itu namanya Putri, belakang Putri yang  pake baju putih itu namanya Fitri, Yang cuma kepalanya yang kelihatan Tham-chan, yang pake jaket Mickey Nouse hitam dalaman merah Dewi, sebelah kiri Dewi itu Fajriah, yang belakang Fajriah namanya juga Fitri.
      
      Oke, akhir kata semoga tulisan ini bermanfaat bagi kalian..^^

Jumat, 04 Maret 2011

1 Maret

Tanggal 1, di bulan yang sama. 1 Maret 2010.

Pertama kalinya aku merasakan rasa yang berbeda pada seseorang.

Aku tak yakin itu apa. Yang jelas itu bukan kagum, karena tak ada yang pantas dikagumi darinya. Bukan juga nafsu, karena aku bahkan tak pernah bertemu dengannya. Dan juga bukan sayang adik pada kakaknya, karena aku cemburu jika tahu dia bersama orang lain.

Mungkin itu adalah cinta, entah aku tak tahu. Hanya saja rasa itu memberi semangat dan harapan serta energi positif bagiku.

Karena dia, yang suaranya tak pernah ku dengar, aku tak bisa tidur.
Karena dia, yang punya otak mesum, aku ingin menjadi lebih baik.
Karena dia, aku menangis.

Yah, itu cinta. My first love.

Saat ku sadar aku bukan siapa-siapa baginya sakit rasanya. Tapi aku bukan orang yang cengeng, menangisi semua hal yang seperti itu. Hanya saja aku merasa hampa.

1 tahun 4 hari berlalu.
Sedikit demi sedikit aku melupakannya, sulit memang. Aku berusaha menyukai orang lain, tapi ku tahu itu bukan cinta, tapi hanya kagum. Kagum pada semangat, kepintaran, dan kebaikan mereka. Bukan rasa seperti yang kurasakan padanya.

Pelan tapi pasti, pada akhirnya nanti akan datang DIA yang sebenarnya.

Dan my first love, nantinya akan menjadi kenangan indah dalam hati, pikiran dan perasaan ku.

Rabu, 02 Maret 2011

Kesadaran, Tanggung Jawab dan Keikhlasan

          Jika aku berangkat pagi pagi ke sekolahku dan sampai di sekolah lebih awal maka aku akan mendapatkan ruang kelas X.1, kelas yang telah ku tempati selama 7 bulan terakhir ini sangat kotor dan berantakan. Seperti pagi ini.
          Aku datang lebih pagi karena hari ini di sekolah akan diadakan peringatan maulid nabi Muhammad SAW. Saat memasuki di sana hanya ada dua orang teman ku. Aku menghela nafas seperti yang ku perkirakan sebelummya kelas pasti kotor. Aku lalu berjalan ke arah bangku ku dan menunggu teman-teman ku yang lain.
          Jam telah menunjjukan pukul 7.15 WITA dan kelas telah penuh dengan teman sekelasku. Kemudian aku memandang sekeliling tak ada seorang pun yang bergerak membersihkan kelas. Aku berjalan ke arah meja guru, di dinding belakang meja itu terpampang daftar piket kebersihan kelas ku aku kemudian memandang nama-nama yang terpampang di sana, sebagai ketua kelas aku mulai meneriaki teman ku yang bertugas hari ini agar segera membersihkan kelas. Dan coba tebak, tak seorang pun menanggapi teriakanku, aku menghela nafas dan mendekati mereka satu persatu. Aku kemudian membujuk mereka, dengan segala cara yang kulakukan aku membujuk mereka dengan lemah lembut untuk membersihkan kelas dan bukannya mengambil sapu dan membersihkan kelas mereka malah mengacuhkan ku dan menyuruh orang lain. Kemudian, ku datangi ia, teman dekat ku di kelas ini. Ku bujuk dia untuk membersihkan kelas karena hari ini adalah tugas piketnya, belum selesai aku bicara ia menyuruhku untuk menyuruh orang lain dan bukan ia, karena pada hari sebelum-sebelumnya ia telah membersihkan kelas dan menurutnya tidak adil jika hanya dia yang terus aku suruh untuk menyapu kelas sedangkan yang lain tidak.
          Mendengar perkataannya aku terhenyak. Aku lalu pergi darinya dan mengambil sapu lalu menyapu kelas kotor ini, walau hari ini bukan tugas piket ku, akan tetapi sebagai ketua kelas aku juga merasa bertanggung jawab. Sambil menyapu aku memikirkan tentang kurangnya kesadaran teman-teman sekelas ku menegenai kesadaran dan tanggung jawab. Mereka hanya ingin mengerjakan kewajiban mereka jika dipaksa atau diadukan pada guru jika tak mengerjakannya dan bukan atas kesadaran sendiri. Aku merasa miris pada tingkah laku teman-teman kelas ku. Tak ada sedikit pun kesadaran mereka tentang pentingnya kebersihan itu, padahal sekolah yang kami tempati belajar saat ini adalah salah satu sekolah yang mengajarkan tentang hidup bersih setiap harinya dan juga sekolah yang terkenal dengan kebersihannya yang patut di contoh oleh sekolah lain di kota ini. Tetapi, menurutku yang paling penting adalah bagaimana menjalankan tanggung jawab yang telah diberikan kepada kami untuk mengelola kelas kami agar terlihat rapi dan bersih.
          Setelah beberapa menit menyapu aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Beberapa teman yang dari melihatku menyapu dalam diam, membantuku membersihkan kelas ini, mungkin karena mereka kasihan melihatku, merasa bersalah, atau merasa tak enak membiarkanku menyapu sendiri, dan tak lama teman dekat ku yang tadi juga mengambil sapu dan mulai menyapu, aku diam-diam tersenyum melihatnya. Tapi senyum itu tak berlangsung lama. Lima menit kemudian ia dan beberapa teman ku yang lainnya menghentikan kegiatannya dan pergi entah kemana. Ku lihat ia, teman ku buru-buru duduk di bangkunya dan mengeluh kelelahan karena telah menyapu satu baris bangku. Aku kemudian berjalan menuju bangku ku yang tadi telah di sapu olehnya dan ku lihat masih terdapat banyak sampah dan kotoran di sana. Aku lalu kembali menyapu area yang belum bersih itu dan area lainnya sampai bersih.
Dari sanalah aku dapat menyimpulkan bahwa walaupun kita mengerjakan sesuatu yang telah menjadi tanggung jawab kita akan tetapi tak ada keikhlasan dalam mengerjakannya maka hasil yang didapatkan tidak akan pernah mambuahkan hasil yang baik pula.
         Dan pelajaran yang dapat kita petik adalah harusnya mulai dari sekarang kita bisa mulai menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab untuk mengerjakan kewajiban kita dan bukan karena ingin di puji oleh orang lain atau karena takut akan hukuman yang kita terima jika tidak mengerjakannya dan disertai dengan keikhlasan dalam mengerjakannya jika menginginkan hasil dari pekerjaan yang kita lakukan itu menghasilakan sesuatu yang baik